Jumat, 22 Oktober 2010

HOMO HOMINI SOCIO dan HOMO HOMINI LUPUS

Definisi Homo Homini Socio


Manusia, sudah jelas bahwa manusia yang dimaksud di dunia tidak hidup sendiri dan tidak akan bisa hidup sendiri. Karena itu manusia juga disebut makhluk sosial, makhluk yang hidup berkelompok. Manusia membutuhkan informasi-informasi untuk mengetahui keadaan kehidupan yang ada, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan survive atau juga pertahanan hidup di dunia ini.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai aturan-aturan atau peradaban yang berbeda beda di dunia ini, setiap titik tempat pasti mempunyai peraturan yang berbeda beda. Peraturan tersebut dibuat untuk mentertibkan dan menyesuaikan dengan keadaan titik tempat tersebut, dan juga dibuat untuk mentertibkan komunikasi antar manusia.

Bukan baru-baru ini manusia sebagai makhluk sosial, tetapi sudah berabad-abad lamanya, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, manusia sangat membutuhkasn satu sama lain, karena beberapa alasan, tetapi ada beberapa alasan yang sangat dominan yaitu :
  1. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pangan, atau jasmaninya.
  2. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pertahanan diri, atu kita bisa sebut survival, untuk bertahan hidup.
  3. Manusia juga sangat membutuhkan interaksi dan sosialisasi atas dasar melangsungkan jenis atau keturunan.
Dari point-point di atas kita bisa melihat dan membayangkan bagaimana manusia sangat membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya membutuhkan, tapi masyarakat atau kumpulan manusia yang berinteraksi adalah suatu komponen yang tidak terpisahkan dan sangat ketergantungan. Sehingga komunikasi antar masyarkat dientukan oleh peranan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.

Globalisasi, adalah perubahan secara besar-besaran atau secara umum meluas. Dalam arus globalisasi yang berkembang sangat cepat ini manusia menjadi makhluk yang sangat mudah meniru dalam arti meniru sesuatu yang ada di masyarakat yang terdiri dari :

  1. Manusia mudah meniru atau mengikuti perkembangan kebudayaan-kebudayaan, dimana manusia sangat mudah menerima bentuk-bentuk perkembangan dan pembaruan dari kebudayaan luar, sehingga dalam diri manusia terbentuklah pengetahuan, pengetahuan tentang pembaruan kebudayaan dari luar tersebut.
  2. Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia, sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Secara umum, keinginan manusia untuk meniru bisa terlihat jelas dalam suatu ikatan kelompok, tetapi hal ini juga kita dapat lihat di dalam kehidupan masyarakat secara luas.Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
  1. Tekanan Emosiaonal. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
  2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
  3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.


Definisi Homo Homini Lupus



“Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” atau juga disebut “Homo homini Lupus ” istilah ini pertama kali di kemukakan oleh plautus pada tahun 945,yang artinya sudah lebih dari 1500 tahun dan kita masih belum tersadar juga. di jaman sekarang ini sangat sulit Menjadikan Manusia seperti seorang manusia pada umumnya, sepertinya istilah ini masih tetap berlaku sampai sekarang.
 
Homo homini lupus artinya kurang lebih sebagai berikut” Manusia itu adalah serigala bagi manusia lain”. Dalam arti luas bahwa orang lain yang sering ditemui bukan lagi sebagai sahabat atau sesama (homo socius). Orang yang tidak sealiran dengannya dianggap sebagai lupus (serigala). Atau sebagai contoh dari dulu sejak zaman Adam dan Hawa hal ini telah terjadi dari pembunuhan anak Adam dan Hawa, perang dunia sampai terorisme. Kekerasan bahkan sampai penghilangan nyawa yang tidak manusiawi kini adalah fakta yang tidak bisa dibantah.

Banyak sikap manusia yang semakin dilarang semakin melakukanya, contohnya semakin tinggi pagar rumah makin menantang untuk dimalingi oleh pencuri. Kerap kali kita bertanya “apa sih sebenarnya manusia itu ?”. Perang dunia, tindakan kekerasan, bunuh, potong, iris, cincang, mutilasi, bom, bakar, penggal Apakah itu disebut manusia? Tidak. Kenapa tidak? Karena itu semua manusia yang melakukanya dan dilakukan terhadap manusia juga (dari manusia untuk manusia) itu baru namanya “Manusia itu adalah serigala bagi manusia”, itulah sebanya manusia lain disebut lupus (serigala) yang berani membunuh dan memakan sesamanya.

Pengakuan sebagai umat beragama yang telah patuh terhadap ajaranya kerap kali sebagai alasan tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Banyak pelaku kekerasan seperti tersebut menyatakan ini masalah iman, masalah Tuhan atau masalah kebenaran (kebenaran yang ditafsirkan manusia itu sendiri). Kalau boleh meminjam kata yang sangat didengungkan orang Kristen adalah “kasih”. Kasih berarti pengorbanan, Kasih berarti tidak munafik, Kasih berarti menerima apa adanya. Kalau boleh meninggi, sudahkan bangsa atau dunia ini tidak ada kasih lagi, walau selalu berstempel orang beragama. Seorang agamawan yang baik tentu menghargai kebheinekaan (pluralis), menerima orang lain apa adanya, tidak munafik, tapi secara jujur dan tulus menghargai segala perbedaan. Pemahaman agama yang separuh-separuh hanya akan menimbulkan kemunafikan, karena esensinya hilang.

Banyak manusia merasa yang merasa dirinya paling benar, sebaiknya sebelum kita merasa kita yang paling benar seharusnya kita harus tahu apa sebenarnya itu benar salah, baik buruk, indah tidak indah, wahyu. Melihat dari telah banyaknya khasus Homo Homni Lupus sebaiknya kita sebagai manusia yang sebenarnya, manusia yang disebut makhluk hidup yang paling spesial janganlah menjadi lupus (serigala) bagi sesama manusia.
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar